Gangguan Kesehatan Mulut Pada Anak

Feb 04, 2016 1:53pm

Fani berusia lima tahun. Ia sudah bersekolah di taman kanak-kanak. Secara berkala ada pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut bagi anak-anak di sekolahnya, pelayanan itu dilakukan oleh dokter gigi yang sehari-hari bekerja di Puskesmas terdekat. Setiap anak mendapatkan laporan tentang kesehatan gigi dan mulutnya. Ada anak yang betul-betul sehat, tetapi tidak sedikit yang mengalami gangguan di rongga mulutnya, dari karies hingga gusi berdarah atau bahkan bernanah. Fani termasuk di antara anak yang menderita gusi bernanah. Mungkin orangtuanya termasuk kelompok permisif yang membiarkan anaknya tidak menggosok gigi secara teratur. Dan acara menggosok gigi semakin menjadi momok ketika giginya mulai berdarah setiap kali digosok.

 

Gusi bernanah biasanya diawali dengan proses karies gigi. Tidak usah heran jika banyak orang mengira karies gigi terjadi karena makanan atau minuman manis. Padahal karies gigi tidak semata-mata akibat makanan yang mengandung kadar gula tinggi.

 

Gigi dilindungi oleh lapisan permukaan yang disebut email. Email ini keras sekali mengingat fungsi gigi sebagai alat pengolah makanan pertama, untuk mengunyah atau melembutkan makanan sebelum dimasukkan ke proses pencernaan selanjutnya. Akan tetapi, meskipun keras email rentan terhadap asam. Asam ini bisa berasal dari makanan yang dimasukkan ke dalam mulut, hasil fermentasi sisa makanan dalam mulut, bisa pula asam lambung yang terbawa naik ketika buah hati bunda muntah.

 

Masalahnya, ada anak yang baru bisa tidur setelah minum susu dengan botol. Minum susu menjelang tidur ini membuat suasana rongga mulut bersifat asam. Yang seharusnya mempunyai pH 7, sisa susu yang tidak dibilas dengan air tawar ini menjadikan rongga mulut lebih asam. Suasana asam ini tidak menguntungkan karena dapat mengikis permukaan email. Berbeda dengan tulang, lapisan email ini tidak memiliki kemampuan memulihkan diri. Lapisan paling luar ini menjadi buram dan kasar sehingga materi sisa makanan lebih mudah melekat ke situ. Dalam hal ini permukaan gigi mengalami demineralisasi.

 

Dengan email yang mengalami demineralisasi, ditambah kehadiran kuman dan sisa makanan, proses karies gigi berkembang lebih ke dalam, ke bagian yang disebut dentin. Setelah bagian ini terserang, proses perusakan selanjutnya menjadi lebih mudah. Kuman-kuman penyusup masuk ke bagian bawah gigi susu, menyantap sel-sel hidup yang ada di sana dan sel-sel mati yang makin lama makin banyak mereka usir ke permukaan gusi, membentuk lenting-lenting berisi nanah. Proses yang sama ini berpeluang mengganggu pertumbuhan gigi tetapnya.

 

Penghentian proses karies gigi dilakukan dengan cara memutus mata rantai pembentukannya, yaitu mengeliminasi kuman. Oleh karena itu yang dilakukan oleh dokter gigi adalah memberi antibiotik untuk membunuh kuman. Biasanya sekitar tiga hari kemudian buah hati bunda diminta datang lagi untuk pembersihan lebih lanjut atau tindakan lain. Kondisi kerusakan yang dialami oleh seorang anak akan menentukan tindakan yang akan diambil. Bisa perawatan pembersihan dengan pengeboran dan penambalan, bisa pula tindakan lebih radikal yaitu pencabutan dini. Pencabutan dini biasanya dilakukan supaya ruang untuk pertumbuhan gigi tetap dalam keadaan sebaik mungkin.

 

Yang tak kurang penting, selama pengobatan, lenting-lenting nanah pasti masih ada, tetapi gosok gigi tetap harus dilakukan. Gunakan sikat gigi dengan bulu-bulu yang lembut. Apabila gusi berdarah karenanya, segera berkumur dengan cairan antiseptik.

 

Apabila kerusakan sudah berhasil diatasi, upaya selanjutnya adalah mencegah karies gigi pada gigi-gigi yang masih sehat. Ini dapat dilakukan dengan menjaga agar rongga mulut tidak asam dengan berkumur air bersih setiap kali habis makan serta meningkatkan daya tahan gigi dan rongga mulut serta sering memakan makanan berserat. ***

 

Halaman:

Recommended Article


Our Channels: