Diare Pada Anak, Bagaimana Mengatasinya?

Jan 22, 2016 7:08pm

Pada suatu hari, Bu Yuli bertandang ke rumah tetangganya Bu Susi yang baru senang-senangnya mengasuh bayinya yang kedua. Ternyata Bu Susi sedang sibuk menenangkan bayinya yang rewel. Sita, bayinya yang baru berusia tiga bulan, agak hangat dan sejak sehari sebelumnya mengeluarkan feses yang encer, bahkan cenderung seperti air. Melihat keadaan seperti itu, komentar Bu Yuli adalah, “Tidak usah kuatir, Bu, itu yang biasa disebut indah. Semua bayi juga mengalaminya. Nanti juga sembuh sendiri. Mungkin putri Ibu mau tengkurap.”Malam harinya, ibu-ibu se-RT gempar. Putri Bu Susi dibawa ke rumah sakit. Harus diinfus. Semoga masih dapat ditolong.

 

Diare ditandai dengan encernya feses dan frekuensinya yang lebih sering daripada biasanya. Pada umumnya diare terjadi akibat makanan atau minuman yang terkontaminasi. Diare pada bayi dapat disebabkan oleh banyak hal, mulai dari infeksi usus hingga perubahan pola makan. Bayi dan balita yang aktif banyak menyentuh benda yang belum tentu bersih. Ditambah dengan penanganan alat makan dan minum yang tidak higienis, tidak mengherankan bila parasit, bakteri, atau virus dapat masuk ke dalam tubuh melalui mulut. Infeksi seperti ini dapat menyebabkan sakit perut dan diare.Kendati demikian, diare juga dapat terjadi karena keracunan makanan, terlalu banyak mengonsumsi jus buah, atau alergi terhadap unsur tertentu dalam makanan atau obat.

 

Cara terbaik untuk mendeteksi diare adalah melihat perubahan warna dan bentuk feses buah hati bunda sedini mungkin. Feses balita umumnya berubah warna, bau, dan tekstur sesuai bahan makanan yang dikonsumsi. Namun feses yang berubah menjadi lebih encer, lebih banyak, atau frekuensinya lebih sering bisa disebut sebagai gejala utama diare. Bagaimanapun, hati-hati dalam membedakannya dengan bayi yang mengonsumsi ASI, karena umumnya mereka mengeluarkan feses yang lebih cair. Sebaliknya feses yang berbentuk bulatan-bulatan kecil merupakan indikasi bahwa buah hati bunda mengalami konstipasi.

 

Seandainya buah hati bunda berusia kurang dari enam bulan dan mengalami diare, periksakan dia ke dokter, terutama jika mengalami gejala-gejala sebagai berikut: muntah-muntah, lesu, feses berwarna hitam, atau merah karena mengandung darah, terdapat nanah pada feses, rewel karena sakit perut, dan demam di atas 39 derajat Celsius.

 

Ketika buah hati bunda yang masih bayi mengalami diare, keseimbangan air dan garam (elektrolit) dalam tubuhnya terganggu. Kondisi ini dapat memicu dehidrasi yang dapat mengancam jiwanya. Selanjutnya bunda mungkin perlu mengetahui gejala dehidrasi yang paling mudah dikenali, yaitu: kondisi mulut yang kering, buah hati bunda menangis tetapi tidak mengeluarkan air mata, buang air kecil lebih sedikit daripada biasanya, kulit terasa lebih kering.

 

Apabila buah hati bunda menderita diare dan menunjukkan gejala dehidrasi, pertolongan pertama yang paling perlu adalah terus memberi ASI guna mencukupi kebutuhan cairan tubuhnya. Apabila produksi ASI bunda kurang dan terpaksa memberinya susu formula, ada baiknya bunda menambahkan air ke dalam susu formula itu, atau menggantinya dengan susu bebas laktosa. Tubuh bayi sulit mencerna laktosa, sehingga susu formula biasa dapat memperburuk diare. (Pada anak yang lebih besar, hindari memberikan jus atau minuman berkarbonasi.) Berikan oralit secara teratur bersamaan dengan makanan atau minuman bayi (ASI, susu formula dicampur air, atau makanan pendamping). Usahakan ruangan selalu sejuk dan jauhkan bayi dari terkena sinar matahari supaya tidak berkeringat berlebihan. Dan yang paling penting, segera bawa ke rumah sakit jika kondisinya memburuk. Meskipun feses buah hati bunda bisa berwarna-warni, diare itu sama sekali tidak indah. ***

Halaman:

Recommended Article


Our Channels: