Apakah Buah Hati Bunda Menderita Asma?

Sep 18, 2015 1:59pm

Buah hati bunda seorang anak yang sangat aktif. Pada suatu malam, ketika seharusnya ia sudah tidur nyenyak, tiba-tiba ia membangunkan bunda dan dengan gelisah memberi tahu bahwa ia sulit bernapas. Padahal bunda yakin bahwa anak itu tidak sedang menderita batuk atau pilek. Bunda tentu saja ikut menjadi gelisah. Kalau kasus anak menderita demam, batuk, atau pilek, obat yang lazim tersedia di rumah biasanya cukup untuk menjadi solusi sementara untuk mengurangi penderitaan buah hati bunda. Namun kali ini setiap kali anak itu menghela napas, yang dilakukannya dengan susah payah, Anda mendengar bunyi tidak biasa yang disebut mengik.

 

Karena hari sudah malam, dan bunda tidak tahu harus berbuat apa untuk menolongnya, bunda memutuskan untuk membawanya ke UGD di rumah sakit terdekat. Di sana dokter jaga memeriksanya dan sementara bunda diminta menebus obat yang diperlukan di apotik di rumah sakit itu, penderitaan buah hati bunda diringankan dengan memberinya oksigen tambahan. Setelah obat didapatkan dan diberikan kepada buah hati bunda, sambil menunggu reaksi obat, dokter mengajak bunda berbincang tentang apa yang baru dialami oleh sang buah hati.

 

Dari perbincangan itu akhirnya didapatkan kesimpulan bahwa buah hati bunda menderita asma dengan debu dan hawa sejuk sebagai pencetus utama. Bunda baru saja pindah rumah. Tidak sekadar pindah rumah tetapi juga pindah dari Jakarta ke sebuah rumah yang terletak di kawasan pegunungan di kabupaten Bandung. Debu jamur dan debu lain dari koleksi buku-buku ketika Anda menyusun mereka di rak buku sebetulnya sudah mulai mengganggu jalan napas buah hati bunda sejak siang hari. Namun gangguan pernapasannya meningkat ketika udara selewat tengah malam lebih sejuk daripada sebelumnya. Inflamasi yang terjadi ketika sistem kekebalan tubuh berusaha menolak alergen, diperparah oleh hawa sejuk di daerah tempat tinggal yang baru.

 

Apakah yang disebut asma?

Asma adalah penyakit pernapasan kronis yang paling sering dijumpai pada anak-anak. Prevalensi asma meningkat dari waktu ke waktu baik di negara maju maupun di negara sedang berkembang. Peningkatan tersebut diduga berkaitan dengan pola hidup yang berubah dan peran faktor lingkungan terutama polusi baik di dalam rumah maupun di luar rumah. Di Indonesia prevalensi asma pada anak sekitar 10% pada usia sekolah dasar, dan sekitar 6,5% pada usia sekolah menengah pertama.

 

Ilmu kedokteran sendiri mengalami perkembangan dalam hal penatalaksanaan penyakit ini berdasarkan perkembangan patogenesis yang telah terjadi. Pada awal 1960-an, dasar patogenesis asma adalah bronkokonstriksi (penyempitan bronkus). Pada tahun 1970-an patogenesis berkembang menjadi proses inflamasi kronis. Pada tahun 1990-an, patogenesis dasar asma adalah inflamasi yang disertai remodeling. Yang dimaksudkan dengan remodeling di sini adalah perubahan-perubahan yang dialami oleh jaringan-jaringan pada jalan napas yang menyebabkan serangan asma. Itu karena perubahan-perubahan tersebut menyebabkan alergen, mikroorganisme, dan racun memiliki akses yang lebih besar ke jaringan-jaringan pada jalan napas. Maka selain pengobatan asma dengan antiinflamasi, sekarang dokter juga harus dapat mencegah terjadinya remodeling.

 

Menurut tingkat keparahannya asma pada anak dibagi menjadi tiga kelompok: asma episodik jarang, asma episodik sering, dan asma persisten.

Asma disebut episodik jarang jika frekuensi serangannya kurang dari satu kali dalam sebulan, lama serangannya kurang dari 1 minggu, intensitas serangan biasanya ringan, tanpa gejala di antara tiap serangan, dan tidak sampai mengganggu tidur atau aktivitas.

Asma disebut episodik sering jika frekuensi serangannya lebih dari satu kali dalam sebulan, lama serangannya lebih dari 1 minggu, intensitas serangan biasanya sedang, ada tanda-tanda atau gejala di antara tiap serangan, dan sering mengganggu tidur atau aktivitas.

Asma disebut persisten jika frekuensi serangannya sering, lama serangannya hampir sepanjang tahun, intensitas serangan biasanya berat, dengan gejala pada siang dan malam hari, dan sangat mengganggu tidur atau aktivitas.

 

Apa yang harus diperbuat?

Apabila buah hati bunda menunjukkan gejala-gejala sesak napas dan terlebih jika keadaan itu sampai mengganggu tidur atau aktivitasnya, langkah bunda satu-satunya adalah memeriksakan buah hati bunda kepada dokter. Jangan mencoba-coba membuat diagnosis dan memberikan pengobatan sendiri karena salah-salah tindakan itu dapat berakibat negatif pada pertumbuhannya.

Kerja sama yang diharapkan dari bunda yang paling penting adalah melakukan pengamatan lebih cermat dan memberikan perhatian lebih besar kepadanya sehingga bunda dapat menjawab semua pertanyaan yang diajukan oleh dokter dengan benar dan apa adanya. Selanjutnya dokter akan memberikan petunjuk-petunjuk tentang apa saja yang harus dihindari oleh buah hati bunda, seperti menjauhkannya dari debu, asap rokok, hawa dingin, situasi stres dan yang tak kurang penting, menjauhkannya dari kemungkinan tertular penyakit-penyakit infeksi saluran pernapasan.

Soal pengobatan dan pemberian alat-alat bantu pernapasan serahkan saja kepada dokter, karena dokterlah yang akan mengatur berdasarkan perkembangan kondisi buah hati bunda. ***

Halaman:

Recommended Article


Our Channels: